Cerpen

Cerpen “Siapa yang Bersungguh – Sungguh Dia akan Berhasil

img270420101271

BAB I

HARI BAHAGIA

 

Ketika itu panas terik menyinari Sekolah Menengah Atas Negeri 14 Palembang. Hari itu adalah hari yang sangat ditunggu – tunggu oleh seluruh siswa/i di Indonesia karena hari itu merupakan pengumuman kelulusan ujian nasional. Semua murid sudah berkumpul di sekolah dengan berbagai ekspresi. Ada yang santai, takut, tertawa, dan membisu. Mereka sudah tidak sabar menunggu jam 2 siang yang dimana waktu itu merupakan pengumuman kelulusan. Terlihat sudah banyak orang tua murid, guru, dan siswa sudah memadati sekolah itu. Mereka semua tentu berharap lulus seratus persen. Begitupun juga dengan Dia, laki – laki dengan tinggi 170 sentimeter, kurus, badan agak bungkuk, kulit tidak terlalu putih, tapi cerdas, dan menjadi nomor satu di kelas itu juga sedang menunggu hasil kelulusan ujian nasional.

Akhirnya waktu yang ditunggu telah tiba, ketika itu seluruh wali murid disuruh masuk ke dalam kelas dan mendengarkan berbagai pengarahan dari kepala sekolah sekaligus membacakan hasil kelulusan. Ketika hasil ujian nasional dibacakan, siswa yang menunggu dengan tegang seketika itu menjadi terharu mendengar bahwa seluruh siswa kelas tiga SMA Negeri 14 Palembang lulus seratus persen. Berbagai reaksi muncul ketika  mendengar pengumuman itu, ada yang langsung menemui orang tua nya, ada yang mencoret – coret bajunya dengan cat “Phylox”  yang sudah dipersiapkan dari rumah, dan ada yang mengucap alhamdulillah. Akan tetapi pengumuman mengenai ujian nasional itu tidak berakhir sampai disitu, pengumuman mengenai siswa dengan nilai ujian terbaik pun ikut diumumkan oleh kepala sekolah.

Ketika kepala sekolah membacakan siapa yang menjadi siswa dengan nilai ujian terbaik, muncullah satu nama yaitu Dia yang menjadi nomor satu di kelas. Semua orang pun mengucapkan selamat kepadanya dan Dia pun mengucap alhamdulillah sambil menyalami orang tua yang ada di sebelah nya. Teman – teman nya pun berkata “selamat ya” kau memang pantas mendapatkannya. Dia pun tersipu malu mendengar ucapan selamat itu dan menjawab dengan senyum yang merekah “terima kasih semuanya, kalian semua sudah mendukung ku”. Setelah menyalami guru dan beberapa temannya, Dia pulang bersama orang tua nya dan merasa bangga atas hasil pencapaiannya. Sesampainya di rumah, rasa gembira dan bangga tergambar jelas di wajahnya. Bagaimana tidak, menjadi siswa terbaik bukanlah perkara mudah, banyak proses yang harus ia lewati. Tapi Dia tidak berpuas diri. Dia sadar bahwa masih ada jenjang pendidikan lebih tinggi yang harus Dia tempuh yaitu dunia perkuliahan. Seleksi masuk perguruan tinggi tentu lebih ketat dibandingkan dengan seleksi masuk SMA. Siswa terbaik itu bernama Dian Saputra, anak pertama dari dua bersaudara. Anak yang sholeh, aktif di organisasi, cerdas, sering memenangi lomba, dan menjadi idola bagi kaum hawa.

Akan tetapi selama di sekolah, Dia dikenal sebagai orang yang alim, menundukkan pandangan, seminimal mungkin melakukan kontak dengan wanita, dan berprestasi. Namun justru itulah yang menjadi nilai tambah darinya. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu dari luar kamar. “tok tok tok”. Kemudian Dia berkata “Ya masuk”. Ternyata yang mengetuk pintu adalah Adiknya yang bernama Meita. Adik kecil yang periang, ramah, dan baik hati ini langsung mengucapkan selamat ke kakaknya “Selamat ya kak sudah lulus ujian dan jadi nomor satu di sekolah, semoga Adik juga bisa seperti kakak do’akan ya kak”. “Aamiin” jawabnya.

Setelah Adik nya pergi Dia membuka jendela kamar nya dan memperhatikan matahari yang perlahan demi perlahan mulai tenggelam. Detik demi detik Dia memperhatikan matahari tersebut dan setiap detik itu juga Dia memuji rabb – Nya subhanallah!. Warna kuning keemasan itu perlahan berganti menjadi warna merah saga yang menandakan bahwa waktu maghrib telah tiba. Tak lama kemudian sahut – sahutan adzan maghrib mulai terdengar dari mulai masjid besar, televisi, radio, dan musholah pun terdengar. Segera Dia menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. Dengan membaca bismillah, Dia menikmati setiap butiran air yang membasahi wajahnya. Bersyukurlah manusia yang bisa merasakan betapa nikmatnya bisa berwudhu. Karena berwudhu dapat menggugurkan dosa, meredam amarah, dan menyucikan diri dari hadast. Setelah selesai berwudhu, Dia pun mengambil baju koko putih bersama dengan kain berwarna hijau muda. Kemudian Dia pergi ke masjid bersama dengan Ayahnya. Jalan dari rumah ke masjid dapat ditempuh dalam waktu 10 menit. Di perjalanan Dia melihat langit yang awal nya berwarna merah saga ini pun perlahan berganti menjadi lebih gelap. Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit Dia sampai di masjid.

Sesampainya di masjid iqamah pun berkumandang yang berarti tanda sholat akan segera dimulai. Imam masjid pun memulai sholat nya dengan takbir yang menandakan sholat sudah dimulai. Sholat pun dilaksanakan dengan khidmat, rakaat demi rakaat terasa sangat nikmat dan bacaan imam pun sangat fasih.

Setelah sholat Dia berdo’a kepada Alah sekaligus berterima kasih atas pencapaian yang telah diperoleh nya saat ini. Karena, jika tanpa bantuan Allah maka Dia tidak akan pernah bisa menjadi seperti sekarang. Sepulang dari masjid Dia dan Ayah nya pun pulang kerumah. Sesampainya di rumah sudah menunggu nasi kuning dengan ayam balado yang sudah dipersiapkan oleh Ibu. “Syukuran kecil – kecilan karena anak kita berhasil jadi nomor satu di sekolah nya” kata Ibu sambil tersenyum. “Alhamdulillah, terima kasih ya bu” ucap Ayah. Setelah makanan siap, seluruh anggota keluarga dipanggil untuk makan bersama. “Semuanya ayo makan, makanannya sudah siap” ujar Ibu. Dia pun bergegas menuju dapur dan mengambil posisi di meja makan. Dengan nasi satu centong ini, Dia memulai makan nya. Karena terasa begitu enak, Dia pun menambah nasinya dan keringat nya pun bercucur dari dahi nya. “Sedap sekali, sampai khilaf begini terima kasih ya bu” ujarnya. Kemudian Ibu nya pun menjawab “iya sama – sama nak, tumben kamu makan sebanyak ini biasanya juga kamu makan nya paling cuma satu centong nasi hahaha” balas Ibu nya. Seketika gelak tawa se rumah pun pecah ketika mendengar kata – kata dari Ibu tadi.

Setelah selesai makan, Dia dan Ayah nya bersiap untuk berangkat ke masjid karena sudah masuk waktu ‘isya. Karena sudah adzan, dan tampak nya sudah cukup lama. Hal itu membuat mereka berdua bergegas menuju masjid. Dengan motor yang ada di rumah, mereka pun pergi ke masjid dengan motor tersebut. Sesampainya di masjid Dia dan Ayah nya langsung mengambil air wudhu dan bersiap untuk sholat. Setelah selesai sholat, Dia pun shola sunnah ba’diyah ‘isya dan berdo’a. Selesai berdo’a mereka pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Dia masuk ke kamar nya dan mulai mempersiapkan diri untuk istirahat.

Di kamar pun Dia merebahkan tubuh nya di kasur yang empuk nan nyaman itu kemudian mengingat kembali apa yang telah terjadi pada hari ini. Dia pun membaca surah Ar – Rahman yang dimana isi nya ada ayat yang diulang sebanyak 31 kali yaitu “Fabiayyi alai rabbikuma tukadzdziban”. Begitu dahsyat nya hari ini baginya. Begitu banyak anugerah yang telah Allah berikan kepadanya. Karena dengan bersyukur maka Allah akan menambah nikmat – Nya. Justru sebalinya, jika kita kufur nikmat maka azab yang akan Allah berikan sangat pedih. Sambil melihat langit – langit kamar pun Dia mengingat mulai dari perjalanannya masuk SMA, kemudian menjadi ketua Rohis disekolah nya, memenangi lomba cepat tepat, dan puncak nya adalah menjadi nomor satu disekolah. Semua nya memang tidak terjadi secara kebetulan. Entah ketika mengingat perjuangannya saat masih sekolah dulu Dia hanya bisa tertawa dan berterima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang begitu besar kepadanya.

Setelah Dia mengingat kenangan akan indahnya hari ini dan masa – masa indah nya di sekolah pun Dia membaca ayat kursi, surah Al – Kautsar, surah Al – Falaq, surah An – Nas, dan do’a tidur. Sebelum tidur Dia pun mematikan lampu nya karena dengan tidur dalam keadaan lampu dimatikan maka tidur kita berkualitas dan mata kita tidak cepat rusak. Karena jika tidur dengan lampu menyala, maka saat terbangun mata kita akan terasa perih karena mata kita belum siap dengan terpaan cahaya lampu tersebut. Setelah itu pun Dia akhirnya memejamkan mata nya dan mengakhiri hari nya.

To be Continue

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s