Cerpen

Santai yang berujung……

santai

Ketika itu di siang hari cuaca sedang mendung mendekati hujan di kota Depok, suatu pemandangan langka untuk keadaan sekarang karena gejala El – Nino sedang terjadi dimana – mana. Tidak hanya Depok, tapi hampir seluruh wilayah di Indonesia mengalami kekeringan. Menikmati cuaca mendung itu aku sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmatNya yang begitu besar.

Saat itu aku sedang berada di Rumah bersantai ria dengan Handphone plus laptop yang sering menjadi tempat mengadu kebosanan. Ketika sedang melihat timeline instagram aku melihat sebuah pemandangan yang sangat indah yang kebetulan tidak ada keterangan di bawah foto nya. Biasanya jika orang melakukan posting di instagram tentunya ada keterangan foto dibawah nya. Tapi kali ini tidak, hanya ada foto nya saja. Karena kagum dengan pemandangan itu aku pun memejamkan mata sejenak untuk membayangkan jika aku berada di tempat itu.

Sambil memejamkan mata, aku pun mulai membayangkan keberadaaanku disana dengan pemandangan pantai yang luas dan pasir putih membuat diri ini semakin kagum dengan ciptaan Tuhan. Aku pun mulai membuka pintu untuk masuk ke dunia ku sendiri itu. Perlahan mulai ku buka pintu yang ada di depan mataku itu, kupegang tuas pintu berwarna putih itu, lalu aku menekannya dan terbuka lah pintu yang menghubungkan dunia yang kutinggali sekarang dan dunia khayalan ku itu.  Dengan berjalan selangkah demi selangkah aku mulai menikmati pemandangan yang indah ini. Mulai dari menulis nama di pantai, foto selfie di pantai, diving, dan makan hidangan khas pantai. Di pantai tersebut hanya ada sedikit orang dan jika pun ada mereka tidak mengenakan pakaian yang terbuka. Bagaikan masuk dunia ku sendiri, sambil berjalan menuju tepi pantai aku pun melihat sebuah peradaban yang cukup maju disana. Karena penasaran aku pun mengambil motor vario ku. Setelah mesin nya menyala, kemudian aku langsung tancap gas kesana. Membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke tempat tersebut.

Perjalanan selama 15 menit merupakan perjalanan yang lumayan panjang karena jalanan tidak macet dan tidak ada lampu merah. Berbeda sekali dengan Jakarta yang setiap hari dihadapkan dengan kemacetan yang tak berkesudahan, mulai dari pagi sampai dengan malam selalu ada jalanan yang macet. Aku pun semakin menikmati imajinasi ku ini. Sesampainya di tempat yang kutuju itu aku pun melihat peradaban yang sangat maju disini. Ada kereta yang menggantung diatas fly over, ada mobil tak beroda, gedung apartemen yang menjulang ke langit, rumah yang bisa berpindah – pindah, kemudian ada hovercraft yang terparkir hampir disetiap rumah nya. Sambil berjalan aku melihat kemajuan yang sangat pesat dialami negeri yang kudatangi ini. Penduduk nya berperilaku sopan, memakai celana yang mengatung diatas mata kaki, memiliki hidung yang mancung dan berkulit putih. Begitu juga dengan penduduk wanita nya, mereka memakai jilbab yang panjang, menundukkan pandangan, mereka memakai rok sesuai syariat dan bicara nya sangat santun.

Melihat kondisi penduduk dan pembangunan nya, aku sangat kagum sekaligus malu dengan keadaan dunia yang kutinggali sekarang. Tapi setidaknya aku yakin bahwa dunia yang kutinggali saat ini bisa seperti negeri yang ada di khayalanku ini. Setelah takjub dengan berbagai pemandangan ini, aku pun mulai berpetualang di negeri ini. Dengan menggunakan taksi aku pun ingin ke stasiun kereta api yang ada di atas fly over itu. Soal nya ini bukan kereta api biasa, tapi kereta nya seperti monorail yang kereta nya digantung tapi banyak gerbong nya.

Setelah menunggu selama lima menit untuk mendapatkan taksi, aku pun naik dan berkata ke sopirnya “tolong antar saya ke stasiun terdekat pak”. Tanpa banyak bicara, aku pun langsung diantarkan ke stasiun kereta itu. Dengan kecepatan 60 km/jam, hanya dengan waktu 10 menit aku sampai di stasiun kereta itu. Setelah membayar, aku pun langsung berlari menuju pintu stasiun dan membeli tiket masuk. Sesudah mendapat tiket masuk aku pun langsung menuju ke peron kereta dan kebetulan langsung ada kereta nya. Saat memasuki kereta, kereta nya bersih dan masuk nya tidak berdesak – desakan. Setelah pintunya tertutup kereta pun mulai jalan. Disepanjang perjalanan aku melihat bangunan – bangunan tinggi menjulang, hamparan bentuk rumah yang unik dan sungai yang sangat bersih.

Saat kereta sedang berjalan ternyata ditengah perjalanan kereta tersebut mengalami masalah. Ternyata tiang kereta nya hampir patah, entah karena apa. Seluruh penumpang panik termasuk aku pun ikut dalam kepanikan itu. Karena tak mampu menahan beban kereta tersebut jatuh dan kami pun berteriak Allahuakbar!!. Ketika kereta sudah hampir menyentuh tanah aku pun terbangun, ternyata aku tertidur. Kagum, cemas, takut bercampur jadi satu. Tamat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s